Berita Terkini

Intisari Khutbah: Tamak - al-Ustadz H. Sarmadi Mawardi, Lc. , S. Pd. I

Di antara sebab hidup kita tidak bahagia, tidak tentram dan selalu gelisah adalah; tertipunya kita oleh kecintaan kepada harta dan kemewahan duniawi. Orang yang diperdaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahirlah sikap-sikap yang menjauhkan dirinya dari rasa syukur kepada Allah Swt. Ia merasa justru kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya sendiri, tak ada keikutsertaan Allah Swt. Orang –orang yang terlalu mencintai kenikmatan duniawi, akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya, meski harus menggunakan  cara tidak manusiawi atau tidak layak menurut agama. Sikap berlebihan dalam mencintai duniawi seperti ini, dalam agama kita dikenal dengan nama; sifat tamak.
Yaitu sifat terlalu berlebihan dalam mencintai duniawi, sehingga ia tidak lagi memperdulikan halal dan haram yang mengakibatkan dosa besar.
Firman Allah:
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami ia berkata:"Sesungguhnya aku diberi ni'mat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui". {Az-Zumar:49}.
Tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan, tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini dijelaskan oleh para ulama adalah sebagai sebab timbulnya sifat dengki, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah Swt, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban-kewajiban agama.
Sifat tamak atau rakus terhadap duniawi ini juga menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh ulama tasawuf seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup, karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak. Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga akan kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Rasulullah Saw. Bersabda:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta,pasti ia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan penuh tenggorokan anak Adam kecuali diisi dengan tanah..” (HR. al Bukhari)
Dengan demikian, orang  yang tamak akan selalu merasa rugi. Sifat tidak bersyukur dan tidak puas dengan apa telah diperoleh, menyebabkan hidup makin tertekan. Perasaan tidak puas atau tidak cukup dengan apa yang dimiliki adalah salah satu penyakit jiwa yang bisa menyebabkan seseorang hilang petunjuk dalam kehidupannya. Sesungguhnya harta itu ialah amanah Allah kepada seseorang. Harta hendaklah dicari dengan cara yang halal dan kemudian dibelanjakan pula ke jalan kebaikan.
Maka oleh karena itu, penyakit hati ini harus secepatnya kita obati dan singkirkan. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengusir dan mengobati penyakit tamak atau rakus ini, diantaranya:
Pertama; Membiasakan hemat dan bijaksana dalam membelanjakan harta atau rezeki yang telah ditakdirkan kepada kita.
Kedua; Menguatkan keyakinan bahwa setiap orang rezekinya sudah berada dalam jaminan Allah Swt. Firman Allah: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (al Ankabut: 60)
Ketiga; Senantiasa memandang ke bawah dalam urusan harta dan kemewahan duniawi. Sabda Nabi: “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim).
Dan yang keempat; Mengisi hati dengan sifat qana’ah, yaitu menerima rezeki dengan lapang dada. Sifat ini dianggap paling tepat dalam menyikapi dunia ini. Sifat qana'ah yang merupakan lawan dari sifat tamak, akan menjadikan seseorang  mampu meletakkan harta dan dunia ini hanya di tangannya, bukan di dalam hatinya. Ia berprinsip bahwa kekayaannya semata titipan Allah. Jika suatu saat diambil ia takkan merasa rugi. Karena semua yang dimilikinya adalah titipan Allah Swt. Prinsip inilah yang mampu membuat jiwa tentram dan nyaman,  meski diterpa berbagai petaka dan cobaan. Rasulullah Swt. bersabda: “Jadilah orang yang wara’, niscaya kamu  menjadi ahli ibadah. Dan jadilah orang yang qana’ah, niscaya kamu  menjadi ahli syukur”.
Dari uraian singkat ini, maka janganlah sekali-kali kita menyangka, bahwa ketentraman hidup akan ditentukan oleh banyak dan tidaknya harta yang dimiliki, besar kecilnya tempat tinggal, tinggi rendahnya kedudukan dan pangkat yang disandang. Padahal sebenarnya, ketentraman hidup yang hakiki hanya dapat diraih melalui sikap yang tepat terhadap harta dan dunia yang dimilikinya. Maka sifat yang tepat dalam menyikapi dunia ini adalah menanam kuat-kuat sifat qana’ah dan membuang jauh-jauh sifat tamak dan rakus.
Dan marilah kita tingkatkan rasa syukur kita kepada Allah swt. atas nikmat agama, akal, kesehatan, pendengaran, penglihatan, rezeki, keluarga dan nikmat lain yang tak terhitung banyaknya. Mudah-mudahan dengan demikian bisa menjadi berkah dan pengikat  atas nikmat yang ada pada kita, dan hendaknya kita meyakini bahwa dengan memperbanyak dan meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah akan semakin menambah banyak nikmat tersebut. Amien ya Rabbal 'Alamin!