Senin, 02 Maret 2026

Penerimaan Mahasantri Baru Ma'had Aly Rakha Amuntai

 Link Pendaftaran: bit.ly/DaftarMahadAlyRakha2026 




PENERIMAAN MAHASISWA BARU STIQ RAKHA AMUNTAI

 Informasi Pendaftaran : https://lynk.id/pmbstiqamuntai




Rabu, 04 Februari 2026

Santri alumni MA NIPA Rakha Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai menuju Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir



Delegasi santri alumni MA NIPA Rakha Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai menuju Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Semoga diberikan kemudahan, kelancaran dalam menuntut ilmu, serta menjadi generasi yang membawa keberkahan bagi umat. Amin 🤲

Selasa, 06 Januari 2026

Inovasi Pendidikan di HSU: Pondok Pesantren Rakha Amuntai Gelar Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam

 


AMUNTAI – Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Aula STIQ Rakha Amuntai, pesantren bersejarah ini menggelar pelatihan strategis bertajuk "Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam".

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan yayasan, kepala madrasah, serta ratusan dewan guru (Mualim dan Mualimah) di lingkungan Pondok Pesantren Rakha. Pelatihan ini bertujuan untuk menyelaraskan nilai-nilai luhur pesantren dengan paradigma pendidikan modern yang lebih manusiawi dan bermakna.

Cinta Sebagai Fondasi Karakter Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Dr. Hj. Nahdiyatul Husna, S.Pd.I., M.M., hadir sebagai keynote speaker. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa "Kurikulum Berbasis Cinta" bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum nasional, melainkan sebuah perubahan perspektif dalam mendidik.

"Pemerintah menghendaki pendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga menanamkan empati, kasih sayang, dan karakter. Kita ingin melahirkan pemimpin yang hebat bukan hanya karena pintar, tapi karena memiliki akhlak dan integritas yang kokoh," ujar Dr. Hj. Nahdiyatul Husna di hadapan peserta.

Mengintegrasikan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) Narasumber pertama, Drs. H. Munadi Sutera Ali, M.MPd., memaparkan konsep Deep Learning (PM) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Beliau menjelaskan bahwa KBC fokus pada aspek "mengapa dan untuk apa" kita belajar (nilai dan sikap), sementara PM fokus pada "bagaimana" cara belajar yang aktif dan reflektif.

"Pembelajaran mendalam tidak menghilangkan hafalan, tetapi menambahnya dengan pemahaman dan penerapan dalam kehidupan nyata melalui tiga tahapan utama: Memahami, Mengaplikasikan, dan Merefleksikan," jelas Drs. H. Munadi. Beliau juga menekankan pentingnya menciptakan suasana kelas yang aman dan menggembirakan tanpa beban tekanan bagi santri.

Pendidikan Adalah Perjalanan Totalitas Senada dengan hal tersebut, Dr. KH. Abdul Hasib Salim, MAP, selaku Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Rakha, menekankan bahwa kurikulum adalah sebuah "peta jalan" dan pendidikan adalah perjalanannya. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari adanya perubahan nyata pada diri santri, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

"Cinta di pesantren adalah mahabbah dan ketulusan antara kiai dan santri. Jika santri mencintai gurunya dan lingkungannya, ilmu akan lebih mudah meresap dan mendatangkan keberkahan," ungkap Dr. KH. Abdul Hasib.

Menjawab Tantangan Zaman dan Teknologi Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan munculnya isu-isu kontemporer, seperti tantangan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran agama. Para narasumber sepakat bahwa AI tidak boleh menggantikan proses pencarian ilmu yang mendalam, dan peran guru tetap vital dalam membentuk karakter yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Selain itu, forum ini juga menjadi ruang evaluasi bagi para guru untuk terus memperbaiki adab santri, mulai dari kedisiplinan beribadah hingga penguatan bahasa Arab sebagai ciri khas pesantren.

Melalui pelatihan ini, Pondok Pesantren Rakha Amuntai berharap dapat mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul secara intelektual (SDM Unggul), tetapi juga memiliki jiwa nasionalis, toleran, dan cinta terhadap Allah, sesama, serta alam semesta menuju Indonesia Emas 2045.


Minggu, 28 Desember 2025

Ma'had Aly Rakha Amuntai Raih Predikat "Mumtaz" dalam Asesmen Nasional



MALANG – Ma'had Aly Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam kegiatan Asesmen yang diselenggarakan pada akhir tahun 2025, institusi pendidikan tinggi pesantren ini berhasil meraih predikat tertinggi, yakni “Mumtaz”.

Penghargaan prestisius ini diterima langsung oleh KH. Samsul Fajeri, Lc, M.A, selaku Ketua Takhassus Akidah dan Filsafat Islam Ma'had Aly Rakha, dalam sebuah seremoni khidmat yang berlangsung di Malang, Jawa Timur, pada Senin (09/12/2025).

Komitmen Peningkatan Mutu Berkelanjutan

Kegiatan ini mengusung tema besar "Membangun Budaya Mutu Berkelanjutan (Continuous Quality Improvement) di Satuan Pendidikan Pesantren Jalur Pendidikan Formal". Predikat "Mumtaz" yang diraih menunjukkan bahwa Ma'had Aly Rakha telah memenuhi standar kualitas penjaminan mutu yang ketat, baik dari sisi kurikulum, tata kelola, maupun tenaga pengajar.

Jumat, 19 Desember 2025

Merawat Sinergi Ulama dan Negara dalam Membina Umat Hulu Sungai Utara

Oleh: Muh. Haris Zubaidillah

Silaturrahmi Alim Ulama dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara yang diselenggarakan di Aula STAI Rakha Amuntai pada Kamis, 18 Desember 2025, bukan sekadar agenda seremonial. Bagi saya, kegiatan ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis ulama dan MUI dalam membina umat sekaligus menguatkan sinergi dengan negara dalam konteks pembangunan daerah.

Kehadiran para ulama, ustadz, kyai pondok pesantren, akademisi, serta mahasiswa dalam satu forum bersama pemerintah daerah menunjukkan bahwa pembinaan umat tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas sektor. Ulama tidak berdiri di menara gading, dan pemerintah pun tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan nilai-nilai moral dan spiritual. Di titik inilah makna silaturrahmi menemukan relevansinya: mempertemukan otoritas moral dan otoritas struktural demi kemaslahatan umat.

Dalam perspektif keislaman, sebagaimana disampaikan oleh Ketua MUI, peran ulama berakar kuat pada Al-Qur’an, Hadis, dan tradisi keilmuan para ulama terdahulu. Ulama adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya’), yang tugas utamanya membimbing umat agar tetap berada di jalan yang lurus, menjaga akidah, akhlak, dan harmoni sosial. Namun, di era negara-bangsa modern, peran ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial dan kebijakan publik.

Dari sudut pandang pemerintah, sebagaimana dipaparkan oleh perwakilan pemerintah daerah, ulama memiliki posisi strategis sebagai mitra dalam pembangunan. Ulama bukan hanya pemberi nasihat keagamaan, tetapi juga agen moral yang mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat. Pemerintah membutuhkan suara ulama untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga berlandaskan etika dan kemanusiaan.

Dalam perspektif negara dan sosiologis, saya memandang bahwa MUI dan ulama memiliki fungsi ganda. Pertama, sebagai penjaga moral publik (moral guardian) yang mengawal nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Kedua, sebagai jembatan komunikasi antara umat dan negara. Di tengah dinamika sosial yang kompleks—mulai dari tantangan narkoba, krisis keteladanan, hingga persoalan generasi muda—peran ulama menjadi semakin vital untuk merawat kohesi sosial dan ketahanan moral masyarakat.

Diskusi yang berkembang, terutama terkait komitmen bersama antara pemerintah dan ulama dalam memberantas narkoba di Kabupaten Hulu Sungai Utara, menunjukkan bahwa persoalan sosial tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan regulasi, penegakan hukum, pendidikan, dakwah, dan keteladanan. Komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang ramah rakyat dan anak, termasuk rencana pembangunan taman ramah anak yang gratis, patut diapresiasi sebagai langkah konkret yang selaras dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Saya meyakini bahwa sinergi ulama dan pemerintah bukanlah relasi yang saling menegasikan, melainkan relasi saling menguatkan. Ulama tetap menjaga independensi moralnya, sementara negara menghormati peran strategis ulama sebagai mitra kritis dan konstruktif. Jika sinergi ini dirawat dengan baik, maka pembinaan umat tidak hanya akan melahirkan masyarakat yang religius, tetapi juga masyarakat yang beradab, inklusif, dan berdaya.

Silaturrahmi ini semestinya menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun Hulu Sungai Utara yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. Di sanalah peran ulama dan MUI menemukan maknanya yang paling substantif: menghadirkan nilai, menjaga umat, dan mengawal masa depan bersama.

Rabu, 22 Oktober 2025

Jumat, 13 Desember 2024

Maroko dan Alquran: Menghafal Quran Metode Lauh dan Qalam

Rabu, 11 Desember 2024, Alhamdulillah, kami mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke pedalaman Maroko, di Madinah Lala Maimunah tepatnya. Kami melihat langsung dg mata kepala, sebuah tradisi yang luar biasa dalam menghafal Al-Qur'an, yaitu metode hafalan bil-lauh / menghafal sambil menulis di sebuah papan, di sebuah Ma'had Tahfiz di pedalaman Maroko. 

Di sini, santri bukan hanya hafal di luar kepala (shadran), tetapi juga mahir dan cermat dalam menulisnya sesuai "Rasm Utsmani" dg Qiraat Nafi Riwayat Warsy dari awal juz hingga lengkap 30 juz, dhobthan fil kitabah wal hifzh ala al-Shodr. Santri bukan hanya dituntut untuk menghafal dg mutqin, tetapi juga harus terampil dalam menulis Al-Qur’an dengan tingkat ketelitian dan kecermatan yang tinggi.

Alhamdulillah, di sini, kami dapat menyaksikan langsung proses menghafal dg metode lauh ini. Santri menulis ayat-ayat Al-Qur'an di papan menggunakan tinta dan pena bambu. Setelah itu, Syekh dengan sabar mengoreksi tulisan mereka (marhalah tashih) dan memberi petunjuk atau rumus untuk mengingat ayat-ayat yang memiliki kesamaan. Misalnya, Syekh akan memberi rumus yg menunjukkan bahwa kalimat لله ما في السماوات والأرض secara terpisah ada lima kali dalam Al-Qur'an, sedangkan frasa لله ما في السماوات وما في الأرض muncul sebanyak sebelas kali. Dg metode ini santri bukan hanya hafal ayat-ayat Alquran, tetapi juga cermat dan teliti dg ayat-ayat yg mirip. 

Namun demikian, tulisan yang telah selesai ditulis di papan itu tidak disimpan, tapi dihapus dan dilanjutkan dg menulis ayat yang akan dihafalkan berikutnya. Setelah sejumlah ayat yg tertulis di lauh dihafal dengan baik, melalui pengulangan minimal hingga 200 kali dan telah disetujui oleh Syekh, tinta tulisan yg ada di lauh itu dihapus dengan air. Lalu, papan dikeringkan menggunakan sinar matahari atau gas, dan sang Syekh memberikan garis-garis baru di papan tersebut untuk memudahkan santri menulis hafalan berikutnya. Setiap tingkatan santri memiliki gaya garis berbeda. Bagi pemula, Syekh memberi garis lebih lebar, agar memuat catatan dan koreksi dari Syekh.

Setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an, para santri melanjutkan ke tingkat berikutnya, yaitu "mustawa tafaqquh", untuk mendalami akidah Asy’ari dan fikih Maliki. Sebagian santri juga melanjutkan studi ke Ma'had yang fokus mengajarkan kitab-kitab turats. 

Pengajar Tahfiz di sini sepakat bahwa hafalan Al-Qur'an adalah pondasi penting, tetapi tidak cukup untuk menjadi seorang alim. Untuk menjadi alim, diperlukan perjalanan panjang melalui pembelajaran bertahap (tadarruj) mulai dari kitab-kitab dasar hingga tingkat tinggi.

Ada perbedaan tradisi yang menarik antara Maroko dan Indonesia. Di Indonesia, santri biasanya mencium tangan guru setelah setoran. Di Maroko, mereka justru mengecup kepala guru sebagai tanda penghormatan.  

Kunjungan ini tentunya bukan hanya memberi pelajaran berharga tentang bagaimana menghafal Quran yg cermat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang kekayaan tradisi keilmuan dan tsaqafah di Maroko. Sambutan hangat dan suasana kekeluargaan membuat kami merasa seperti di rumah sendiri, orang Maroko menyebutnya bahwa Maroko merupakan rumah kami (orang Indonesia) yg kedua (setelah Indonesia), "Hadzihi Baldatukum al-Tsaniah". 

Alhamdulillah, perjalanan ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami lebih jauh bagaimana tradisi keilmuan terus dijaga dengan ikhlas dan serius. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan taufik oleh Allah. Amin


Muh Haris Zubaidillah, 

Utusan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai

Peserta Program Karya Tulis Ilmiah Turats di Markaz Inma lil Abhats wad Dirasat al Mustaqbaliyah Maroko 

Beasiswa Luar Negeri Program Non-Degree Kemenag-LPDP Republik Indonesia