Amuntai — Keluarga besar Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai dan masyarakat Kalimantan Selatan diselimuti duka yang mendalam. Mualim KH. Husin Naparin, Lc., MA., wafat pada Rabu (6/5/2026) pukul 08.30 WITA di RS Islam Sultan Agung Banjarbaru. Beliau merupakan Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rakha Amuntai sekaligus salah satu ulama paling berpengaruh di Bumi Banua.
Sebelum wafat, beliau menderita sakit jantung dan paru dan juga sudah sepuh sehingga kondisinya lemah, serta sering keluar masuk rumah sakit. Pada Januari 2026 lalu, KH Husin Naparin sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Ulin Banjarmasin akibat penyakit jantung dan paru-paru yang dideritanya. Kabar wafatnya almarhum dengan cepat menyebar melalui media sosial dan pesan berantai, diiringi ucapan duka serta doa dari berbagai kalangan.
Rangkaian Salat Jenazah dan Pemakaman
Jenazah almarhum menjalani serangkaian prosesi penghormatan di beberapa lokasi. Jenazah KH Husin Nafarin disalatkan di Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin oleh ribuan jemaah. Sepanjang jalan menuju masjid hingga bantaran Sungai Martapura, warga berjejer memberikan penghormatan terakhir.
Selanjutnya, sebagai bentuk penghormatan dari kalangan santri dan keluarga besar pesantren, iring-iringan ambulans yang membawa jenazah KH Husin Nafarin tiba di Ponpes Rakha Amuntai sekitar pukul 16.10 WITA, Rabu (6/5/2026) untuk kembali disalatkan ba'da Ashar di lingkungan pesantren yang telah lama beliau bina.
Sesuai dengan permintaan beliau semasa hidup, almarhum KH Husin Naparin dimakamkan di alkah keluarga, di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, di dekat makam orang tua. Sekitar pukul 17.15 WITA, ambulans yang membawa jenazah tiba di alkah keluarga setelah perjalanan panjang dari rumah duka di Banjarmasin. Suasana khidmat dan haru menyelimuti proses pemakaman, dan Ketua MUI Balangan, KH Ahmad Yusuf, berkesempatan mentalqinkan setelah penguburan selesai.
Riwayat Hidup KH Husin Naparin, Lc., MA.
Kelahiran dan Keluarga
Kiai Husin lahir di Kalahiang, Paringin, pada 10 November 1947, dari pasangan H Muhammad Arsyad dan Hj Rusiah. Ia menikah dengan Dra Hj Unaizah Hanafie pada 15 Juli 1979, yang merupakan putri dari KH Hanafi Gobet, seorang ulama besar dan Imam Besar Masjid Jami Banjarmasin.
Riwayat Pendidikan
Almarhum dikenal sebagai ulama dan intelektual Muslim dengan rekam jejak akademik lintas negara. Sebelum kuliah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Kalahiang, PGA Al-Hasaniyah Layap Paringin (1959–1962), dan Normal Islam Putra Rakha Amuntai (1962–1966).
Beliau memperoleh gelar Lc dari Fakultas Ushuluddin Al-Azhar University, Kairo, Mesir, Jurusan Al-Da'wah wa al-Irsyad, dan gelar MA dari Punjab University, Lahore, Pakistan, Jurusan Islamic Studies, serta menempuh studi Bahasa Arab di Islamic University, Islamabad, Pakistan. Ia juga pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris di The American University in Cairo serta berbagai pelatihan keislaman dan ekonomi syariah.
Pengabdian di Bidang Pendidikan dan Pesantren
Dalam dunia pendidikan, beliau pernah mengajar sebagai guru di Normal Islam Putra Rakha pada 1968–1972, menjabat Wakil Dekan di STIT Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai (1998), dan menjadi Ketua STAI Al Jami Banjarmasin sejak 1998. Beliau tercatat sebagai dosen STAI Al Jami Banjarmasin sejak 1987 dengan pangkat terakhir Pembina Tk I (IV/b) dan jabatan Lektor Kepala Madya. Puncak pengabdiannya di Rakha adalah amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rakha Amuntai.
Kiprah di Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan
Almarhum aktif di berbagai organisasi keagamaan. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia pernah menjadi Ketua III Tanfidziyah tingkat Provinsi Kalsel (1990–1995). Dalam struktur MUI, ia menjabat Wakil Ketua Komisi Fatwa (1990–1995) dan Sekretaris Komisi Fatwa (2001–2006), serta menjadi Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin dalam dua periode (1992–1997 dan 1997–2002). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kalsel hingga berakhir pada 2026. Selain itu, beliau aktif dalam pengelolaan masjid, di antaranya Masjid Raya dan Masjid Noor Banjarmasin, serta memimpin Dewan Masjid Kalimantan Selatan.
Karya Tulis
Selain piawai berdakwah secara lisan, almarhum juga menekuni dakwah bil kitabah (dakwah melalui tulisan). Di antara karya tulis beliau yang sudah dicetak dan beredar adalah Bunga Rampai Timur Tengah (Jilid I dan II), Muhammad Rasulullah, Aktualisasi Fungsi Masjid Dalam Bidang Pendidikan, dan Jati Diri Seorang Muslim.
Penghargaan
Atas dedikasinya dalam dakwah dan pendidikan, KH Husin Naparin menerima berbagai penghargaan, salah satunya Asian Development Golden Award 2002 dari Citra Mandiri Indonesia di Jakarta.
Kepergian KH Husin Naparin meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Pondok Pesantren Rakha, tetapi juga bagi seluruh umat Islam Kalimantan Selatan yang selama ini mengenal beliau sebagai ulama yang teduh, sederhana, dan konsisten membina umat. Segenap civitas Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai memohon doa agar amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illaa billah.