Rabu, 03 Juni 2026

Halalbihalal IKA RAKHA Amuntai: Tetapkan Pengurus Pusat Masa Bakti 2026–2030



Ikatan Keluarga Alumni Rasyidiyah Khalidiyah (IKA RAKHA) Amuntai menggelar agenda Halalbihalal yang berlangsung khidmat pada Selasa, 2 Juni 2026. Acara yang bertempat di Aula Kampus STIQ Rakha ini dihadiri berbagai alumni lintas angkatan dengan latar belakang profesi yang beragam, menunjukkan kuatnya ikatan kekeluargaan antaralumni.

Berbeda dengan kegiatan rutin tahunan, momen Halalbihalal kali ini secara khusus diisi dengan agenda utama berupa pemilihan pengurus pusat IKA RAKHA yang baru. Rangkaian kegiatan dibuka dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan pengurus IKA RAKHA Pusat, serta sambutan dari pengurus Yayasan Ponpes Rakha.

Setelah rangkaian formal tersebut, acara dilanjutkan dengan inti kegiatan, yakni pemilihan pengurus IKA RAKHA Pusat masa bakti 2026–2030, serta pembahasan mengenai rencana pembentukan pengurus di tingkat provinsi dan daerah/kabupaten.

Hasil pemilihan tersebut menetapkan jajaran pengurus inti IKA RAKHA Pusat masa bakti 2026–2030 sebagai berikut:

  • Ketua Umum: Dr. KH. Abd. Hasib Salim, M.AP (Ketua STIQ Rakha)
  • Sekretaris Umum: H. Suwardi Sarlan, S.Ag (Badan Penyantun Ponpes Rakha)
  • Bendahara Umum: H. Hidayah Fikri, S.Ag (Guru MTs Putera Rakha)

Dewan Pengurus Yayasan Ponpes Rakha Amuntai menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terpilihnya pengurus baru tersebut. Diharapkan langkah pengabdian para pengurus masa bakti 2026–2030 ini senantiasa diberkahi, dimudahkan dalam menjalankan tugas, serta menjadi jalan untuk memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan bagi seluruh alumni, almamater, dan pondok pesantren.

Jumat, 08 Mei 2026

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un: KH Husin Naparin, Lc., MA., Ketua Umum Yayasan Ponpes Rakha Amuntai Tutup Usia


Amuntai — Keluarga besar Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai dan masyarakat Kalimantan Selatan diselimuti duka yang mendalam. Mualim KH. Husin Naparin, Lc., MA., wafat pada Rabu (6/5/2026) pukul 08.30 WITA di RS Islam Sultan Agung Banjarbaru. Beliau merupakan Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rakha Amuntai sekaligus salah satu ulama paling berpengaruh di Bumi Banua. 

Sebelum wafat, beliau menderita sakit jantung dan paru dan juga sudah sepuh sehingga kondisinya lemah, serta sering keluar masuk rumah sakit. Pada Januari 2026 lalu, KH Husin Naparin sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Ulin Banjarmasin akibat penyakit jantung dan paru-paru yang dideritanya. Kabar wafatnya almarhum dengan cepat menyebar melalui media sosial dan pesan berantai, diiringi ucapan duka serta doa dari berbagai kalangan. 

Rangkaian Salat Jenazah dan Pemakaman

Jenazah almarhum menjalani serangkaian prosesi penghormatan di beberapa lokasi. Jenazah KH Husin Nafarin disalatkan di Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin oleh ribuan jemaah. Sepanjang jalan menuju masjid hingga bantaran Sungai Martapura, warga berjejer memberikan penghormatan terakhir. 

Selanjutnya, sebagai bentuk penghormatan dari kalangan santri dan keluarga besar pesantren, iring-iringan ambulans yang membawa jenazah KH Husin Nafarin tiba di Ponpes Rakha Amuntai sekitar pukul 16.10 WITA, Rabu (6/5/2026) untuk kembali disalatkan ba'da Ashar di lingkungan pesantren yang telah lama beliau bina. 

Sesuai dengan permintaan beliau semasa hidup, almarhum KH Husin Naparin dimakamkan di alkah keluarga, di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, di dekat makam orang tua. Sekitar pukul 17.15 WITA, ambulans yang membawa jenazah tiba di alkah keluarga setelah perjalanan panjang dari rumah duka di Banjarmasin. Suasana khidmat dan haru menyelimuti proses pemakaman, dan Ketua MUI Balangan, KH Ahmad Yusuf, berkesempatan mentalqinkan setelah penguburan selesai. 


Riwayat Hidup KH Husin Naparin, Lc., MA.

Kelahiran dan Keluarga

Kiai Husin lahir di Kalahiang, Paringin, pada 10 November 1947, dari pasangan H Muhammad Arsyad dan Hj Rusiah. Ia menikah dengan Dra Hj Unaizah Hanafie pada 15 Juli 1979, yang merupakan putri dari KH Hanafi Gobet, seorang ulama besar dan Imam Besar Masjid Jami Banjarmasin. 

Riwayat Pendidikan

Almarhum dikenal sebagai ulama dan intelektual Muslim dengan rekam jejak akademik lintas negara. Sebelum kuliah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Kalahiang, PGA Al-Hasaniyah Layap Paringin (1959–1962), dan Normal Islam Putra Rakha Amuntai (1962–1966). 

Beliau memperoleh gelar Lc dari Fakultas Ushuluddin Al-Azhar University, Kairo, Mesir, Jurusan Al-Da'wah wa al-Irsyad, dan gelar MA dari Punjab University, Lahore, Pakistan, Jurusan Islamic Studies, serta menempuh studi Bahasa Arab di Islamic University, Islamabad, Pakistan. Ia juga pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris di The American University in Cairo serta berbagai pelatihan keislaman dan ekonomi syariah. 

Pengabdian di Bidang Pendidikan dan Pesantren

Dalam dunia pendidikan, beliau pernah mengajar sebagai guru di Normal Islam Putra Rakha pada 1968–1972, menjabat Wakil Dekan di STIT Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai (1998), dan menjadi Ketua STAI Al Jami Banjarmasin sejak 1998. Beliau tercatat sebagai dosen STAI Al Jami Banjarmasin sejak 1987 dengan pangkat terakhir Pembina Tk I (IV/b) dan jabatan Lektor Kepala Madya. Puncak pengabdiannya di Rakha adalah amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rakha Amuntai. 

Kiprah di Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan

Almarhum aktif di berbagai organisasi keagamaan. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia pernah menjadi Ketua III Tanfidziyah tingkat Provinsi Kalsel (1990–1995). Dalam struktur MUI, ia menjabat Wakil Ketua Komisi Fatwa (1990–1995) dan Sekretaris Komisi Fatwa (2001–2006), serta menjadi Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin dalam dua periode (1992–1997 dan 1997–2002). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kalsel hingga berakhir pada 2026. Selain itu, beliau aktif dalam pengelolaan masjid, di antaranya Masjid Raya dan Masjid Noor Banjarmasin, serta memimpin Dewan Masjid Kalimantan Selatan. 

Karya Tulis

Selain piawai berdakwah secara lisan, almarhum juga menekuni dakwah bil kitabah (dakwah melalui tulisan). Di antara karya tulis beliau yang sudah dicetak dan beredar adalah Bunga Rampai Timur Tengah (Jilid I dan II), Muhammad Rasulullah, Aktualisasi Fungsi Masjid Dalam Bidang Pendidikan, dan Jati Diri Seorang Muslim. 

Penghargaan

Atas dedikasinya dalam dakwah dan pendidikan, KH Husin Naparin menerima berbagai penghargaan, salah satunya Asian Development Golden Award 2002 dari Citra Mandiri Indonesia di Jakarta. 

Kepergian KH Husin Naparin meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Pondok Pesantren Rakha, tetapi juga bagi seluruh umat Islam Kalimantan Selatan yang selama ini mengenal beliau sebagai ulama yang teduh, sederhana, dan konsisten membina umat. Segenap civitas Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai memohon doa agar amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illaa billah.






Senin, 02 Maret 2026

Penerimaan Mahasantri Baru Ma'had Aly Rakha Amuntai

 Link Pendaftaran: bit.ly/DaftarMahadAlyRakha2026 




PENERIMAAN MAHASISWA BARU STIQ RAKHA AMUNTAI

 Informasi Pendaftaran : https://lynk.id/pmbstiqamuntai




Rabu, 04 Februari 2026

Santri alumni MA NIPA Rakha Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai menuju Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir



Delegasi santri alumni MA NIPA Rakha Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai menuju Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Semoga diberikan kemudahan, kelancaran dalam menuntut ilmu, serta menjadi generasi yang membawa keberkahan bagi umat. Amin 🤲

Selasa, 06 Januari 2026

Inovasi Pendidikan di HSU: Pondok Pesantren Rakha Amuntai Gelar Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam

 


AMUNTAI – Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Aula STIQ Rakha Amuntai, pesantren bersejarah ini menggelar pelatihan strategis bertajuk "Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam".

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan yayasan, kepala madrasah, serta ratusan dewan guru (Mualim dan Mualimah) di lingkungan Pondok Pesantren Rakha. Pelatihan ini bertujuan untuk menyelaraskan nilai-nilai luhur pesantren dengan paradigma pendidikan modern yang lebih manusiawi dan bermakna.

Cinta Sebagai Fondasi Karakter Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Dr. Hj. Nahdiyatul Husna, S.Pd.I., M.M., hadir sebagai keynote speaker. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa "Kurikulum Berbasis Cinta" bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum nasional, melainkan sebuah perubahan perspektif dalam mendidik.

"Pemerintah menghendaki pendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga menanamkan empati, kasih sayang, dan karakter. Kita ingin melahirkan pemimpin yang hebat bukan hanya karena pintar, tapi karena memiliki akhlak dan integritas yang kokoh," ujar Dr. Hj. Nahdiyatul Husna di hadapan peserta.

Mengintegrasikan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) Narasumber pertama, Drs. H. Munadi Sutera Ali, M.MPd., memaparkan konsep Deep Learning (PM) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Beliau menjelaskan bahwa KBC fokus pada aspek "mengapa dan untuk apa" kita belajar (nilai dan sikap), sementara PM fokus pada "bagaimana" cara belajar yang aktif dan reflektif.

"Pembelajaran mendalam tidak menghilangkan hafalan, tetapi menambahnya dengan pemahaman dan penerapan dalam kehidupan nyata melalui tiga tahapan utama: Memahami, Mengaplikasikan, dan Merefleksikan," jelas Drs. H. Munadi. Beliau juga menekankan pentingnya menciptakan suasana kelas yang aman dan menggembirakan tanpa beban tekanan bagi santri.

Pendidikan Adalah Perjalanan Totalitas Senada dengan hal tersebut, Dr. KH. Abdul Hasib Salim, MAP, selaku Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Rakha, menekankan bahwa kurikulum adalah sebuah "peta jalan" dan pendidikan adalah perjalanannya. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari adanya perubahan nyata pada diri santri, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

"Cinta di pesantren adalah mahabbah dan ketulusan antara kiai dan santri. Jika santri mencintai gurunya dan lingkungannya, ilmu akan lebih mudah meresap dan mendatangkan keberkahan," ungkap Dr. KH. Abdul Hasib.

Menjawab Tantangan Zaman dan Teknologi Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan munculnya isu-isu kontemporer, seperti tantangan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran agama. Para narasumber sepakat bahwa AI tidak boleh menggantikan proses pencarian ilmu yang mendalam, dan peran guru tetap vital dalam membentuk karakter yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Selain itu, forum ini juga menjadi ruang evaluasi bagi para guru untuk terus memperbaiki adab santri, mulai dari kedisiplinan beribadah hingga penguatan bahasa Arab sebagai ciri khas pesantren.

Melalui pelatihan ini, Pondok Pesantren Rakha Amuntai berharap dapat mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul secara intelektual (SDM Unggul), tetapi juga memiliki jiwa nasionalis, toleran, dan cinta terhadap Allah, sesama, serta alam semesta menuju Indonesia Emas 2045.


Minggu, 28 Desember 2025

Ma'had Aly Rakha Amuntai Raih Predikat "Mumtaz" dalam Asesmen Nasional



MALANG – Ma'had Aly Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam kegiatan Asesmen yang diselenggarakan pada akhir tahun 2025, institusi pendidikan tinggi pesantren ini berhasil meraih predikat tertinggi, yakni “Mumtaz”.

Penghargaan prestisius ini diterima langsung oleh KH. Samsul Fajeri, Lc, M.A, selaku Ketua Takhassus Akidah dan Filsafat Islam Ma'had Aly Rakha, dalam sebuah seremoni khidmat yang berlangsung di Malang, Jawa Timur, pada Senin (09/12/2025).

Komitmen Peningkatan Mutu Berkelanjutan

Kegiatan ini mengusung tema besar "Membangun Budaya Mutu Berkelanjutan (Continuous Quality Improvement) di Satuan Pendidikan Pesantren Jalur Pendidikan Formal". Predikat "Mumtaz" yang diraih menunjukkan bahwa Ma'had Aly Rakha telah memenuhi standar kualitas penjaminan mutu yang ketat, baik dari sisi kurikulum, tata kelola, maupun tenaga pengajar.

Jumat, 19 Desember 2025

Merawat Sinergi Ulama dan Negara dalam Membina Umat Hulu Sungai Utara

Oleh: Muh. Haris Zubaidillah

Silaturrahmi Alim Ulama dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara yang diselenggarakan di Aula STAI Rakha Amuntai pada Kamis, 18 Desember 2025, bukan sekadar agenda seremonial. Bagi saya, kegiatan ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis ulama dan MUI dalam membina umat sekaligus menguatkan sinergi dengan negara dalam konteks pembangunan daerah.

Kehadiran para ulama, ustadz, kyai pondok pesantren, akademisi, serta mahasiswa dalam satu forum bersama pemerintah daerah menunjukkan bahwa pembinaan umat tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas sektor. Ulama tidak berdiri di menara gading, dan pemerintah pun tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan nilai-nilai moral dan spiritual. Di titik inilah makna silaturrahmi menemukan relevansinya: mempertemukan otoritas moral dan otoritas struktural demi kemaslahatan umat.

Dalam perspektif keislaman, sebagaimana disampaikan oleh Ketua MUI, peran ulama berakar kuat pada Al-Qur’an, Hadis, dan tradisi keilmuan para ulama terdahulu. Ulama adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya’), yang tugas utamanya membimbing umat agar tetap berada di jalan yang lurus, menjaga akidah, akhlak, dan harmoni sosial. Namun, di era negara-bangsa modern, peran ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial dan kebijakan publik.

Dari sudut pandang pemerintah, sebagaimana dipaparkan oleh perwakilan pemerintah daerah, ulama memiliki posisi strategis sebagai mitra dalam pembangunan. Ulama bukan hanya pemberi nasihat keagamaan, tetapi juga agen moral yang mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat. Pemerintah membutuhkan suara ulama untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga berlandaskan etika dan kemanusiaan.

Dalam perspektif negara dan sosiologis, saya memandang bahwa MUI dan ulama memiliki fungsi ganda. Pertama, sebagai penjaga moral publik (moral guardian) yang mengawal nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Kedua, sebagai jembatan komunikasi antara umat dan negara. Di tengah dinamika sosial yang kompleks—mulai dari tantangan narkoba, krisis keteladanan, hingga persoalan generasi muda—peran ulama menjadi semakin vital untuk merawat kohesi sosial dan ketahanan moral masyarakat.

Diskusi yang berkembang, terutama terkait komitmen bersama antara pemerintah dan ulama dalam memberantas narkoba di Kabupaten Hulu Sungai Utara, menunjukkan bahwa persoalan sosial tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan regulasi, penegakan hukum, pendidikan, dakwah, dan keteladanan. Komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang ramah rakyat dan anak, termasuk rencana pembangunan taman ramah anak yang gratis, patut diapresiasi sebagai langkah konkret yang selaras dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Saya meyakini bahwa sinergi ulama dan pemerintah bukanlah relasi yang saling menegasikan, melainkan relasi saling menguatkan. Ulama tetap menjaga independensi moralnya, sementara negara menghormati peran strategis ulama sebagai mitra kritis dan konstruktif. Jika sinergi ini dirawat dengan baik, maka pembinaan umat tidak hanya akan melahirkan masyarakat yang religius, tetapi juga masyarakat yang beradab, inklusif, dan berdaya.

Silaturrahmi ini semestinya menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun Hulu Sungai Utara yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. Di sanalah peran ulama dan MUI menemukan maknanya yang paling substantif: menghadirkan nilai, menjaga umat, dan mengawal masa depan bersama.