AMUNTAI – Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Aula STIQ Rakha Amuntai, pesantren bersejarah ini menggelar pelatihan strategis bertajuk "Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam".
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan yayasan, kepala madrasah, serta ratusan dewan guru (Mualim dan Mualimah) di lingkungan Pondok Pesantren Rakha. Pelatihan ini bertujuan untuk menyelaraskan nilai-nilai luhur pesantren dengan paradigma pendidikan modern yang lebih manusiawi dan bermakna.
Cinta Sebagai Fondasi Karakter Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Dr. Hj. Nahdiyatul Husna, S.Pd.I., M.M., hadir sebagai keynote speaker. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa "Kurikulum Berbasis Cinta" bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum nasional, melainkan sebuah perubahan perspektif dalam mendidik.
"Pemerintah menghendaki pendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga menanamkan empati, kasih sayang, dan karakter. Kita ingin melahirkan pemimpin yang hebat bukan hanya karena pintar, tapi karena memiliki akhlak dan integritas yang kokoh," ujar Dr. Hj. Nahdiyatul Husna di hadapan peserta.
Mengintegrasikan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) Narasumber pertama, Drs. H. Munadi Sutera Ali, M.MPd., memaparkan konsep Deep Learning (PM) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Beliau menjelaskan bahwa KBC fokus pada aspek "mengapa dan untuk apa" kita belajar (nilai dan sikap), sementara PM fokus pada "bagaimana" cara belajar yang aktif dan reflektif.
"Pembelajaran mendalam tidak menghilangkan hafalan, tetapi menambahnya dengan pemahaman dan penerapan dalam kehidupan nyata melalui tiga tahapan utama: Memahami, Mengaplikasikan, dan Merefleksikan," jelas Drs. H. Munadi. Beliau juga menekankan pentingnya menciptakan suasana kelas yang aman dan menggembirakan tanpa beban tekanan bagi santri.
Pendidikan Adalah Perjalanan Totalitas Senada dengan hal tersebut, Dr. KH. Abdul Hasib Salim, MAP, selaku Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Rakha, menekankan bahwa kurikulum adalah sebuah "peta jalan" dan pendidikan adalah perjalanannya. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari adanya perubahan nyata pada diri santri, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
"Cinta di pesantren adalah mahabbah dan ketulusan antara kiai dan santri. Jika santri mencintai gurunya dan lingkungannya, ilmu akan lebih mudah meresap dan mendatangkan keberkahan," ungkap Dr. KH. Abdul Hasib.
Menjawab Tantangan Zaman dan Teknologi Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan munculnya isu-isu kontemporer, seperti tantangan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran agama. Para narasumber sepakat bahwa AI tidak boleh menggantikan proses pencarian ilmu yang mendalam, dan peran guru tetap vital dalam membentuk karakter yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.
Selain itu, forum ini juga menjadi ruang evaluasi bagi para guru untuk terus memperbaiki adab santri, mulai dari kedisiplinan beribadah hingga penguatan bahasa Arab sebagai ciri khas pesantren.
Melalui pelatihan ini, Pondok Pesantren Rakha Amuntai berharap dapat mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul secara intelektual (SDM Unggul), tetapi juga memiliki jiwa nasionalis, toleran, dan cinta terhadap Allah, sesama, serta alam semesta menuju Indonesia Emas 2045.



Haris

